Banjarsari (Espos) Polemik pembangunan Hotel Boutique di kawasan cagar budaya Benteng Vastenburg belum juga berakhir. Dua kubu pro Boutique dan penolak Boutique, Kamis (12/2), memberikan pernyataan.
Puluhan orang perwakilan dari 17 elemen masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Penyelamatan Aset Negara, Kamis mendatangi Balaikota Solo. Mereka mendesak Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi), untuk tidak menerbitkan izin mendirikan bangunan (IMB) Hotel Boutique dan Mal Beteng.
Mereka juga menuntut agar pemerintah segera mengembalikan kawasan cagar budaya Benteng Vastenburg pada pemilikan dan penguasaan negara, sesuai ketentuan dalam UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Berdasarkan pantauan Espos, mereka antara lain terdiri atas komunitas mahasiswa dari berbagai universitas serta komunitas masyarakat lain seperti Insan Mas, KPCBN, Forum Kebangsaan Surakarta, dan Forum 28, datang ke Balaikota sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, karena tidak bertemu dengan Walikota, akhirnya mereka berbicara dengan wartawan.
Salah seorang delegasi dari BEM UNS, Gunawan, dalam pemaparannya mengatakan, berdasarkan UU No 5 Tahun 1992, kawasan cagar budaya Benteng Vastenburg memang boleh dimiliki oleh pihak swasta, dengan catatan, pemilik berkewajiban melindungi dan memeliharanya. ”Kami menuntut pemerintah melakukan pencabutan izin itu secepatnya.”
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat, Arin dari BEM Staimus menambahkan, kawasan cagar budaya Benteng Vastenburg harus kembali ke tangan negara. Arin mengatakan, jika dalam waktu dekat tidak ada respons dari Walikota atas tuntutan mereka, pihaknya akan menggelar aksi yang lebih besar lagi.
Dukungan
Sementara itu, Forum Peduli Solo menyatakan dukungan terhadap pembangunan Hotel Boutique menyusul krisis ekonomi yang berujung banyaknya pengangguran. Mereka mendesak Walikota segera menerbitkan IMB pembangunan hotel di kawasan Benteng Vastenburg itu.
Ketua Umum Forum Peduli Solo, David Handoko, mengatakan tidak segera dikeluarkannya IMB Hotel Boutique memberikan efek domino pada perekonomian Kota Solo. Pembangunan Hotel Boutique, sebutnya, merupakan solusi bagi krisis perekonomian yang tengah melanda bangsa ini. Menurut David, masyarakat kini dihadapkan pada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
”Harapan kami, dengan dibangunnya Hotel Boutique, memberi banyak hal, antara lain menyediakan lapangan kerja baru, menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan PAD, memberikan lahan baru untuk wirausahawan, mengundang wisatawan sekaligus mewujudkan Solo sebagai Kota Budaya,” jelas David dalam jumpa pers di Manahan, Kamis.
Wakil Ketua Forum Peduli Solo, Sri Kresno Dewantoro, mengatakan forumnya beranggotakan para investor, pengusaha dan profesional yang peduli pada pembangunan di Kota Solo. ”Saya sendiri tahu persis dalam MoU saat ruislag terjadi, yang disebut situs budaya hanyalah bangunan benteng, yang sampai sekarang masih utuh.” - Oleh : Suharsih, Tika Sekar Arum