Pasar Kliwon (Espos) Sungguh mengundang kekaguman sekaligus membuat hati trenyuh pemandangan yang terlihat di pojok utara-timur halaman Balaikota Solo, Selasa (17/2) pagi itu.
Tengkurap di atas tikar dengan bertopang pada siku tangan, pria bernama Faisal Rusdi itu menyapukan kuas pada kanvas lukis yang tersandar pada kursi rodanya. Bukan dengan tangan melainkan dengan mulut. Cacat yang membekapnya sejak lahir membuat kaki dan tangannya tak bisa berfungsi normal.
Namun demikian, laki-laki berusia 34 tahun itu terlihat sangat menikmati kegiatan melukisnya. Tak dihiraukannya puluhan pasang mata yang memandang dengan keheranan.
Bahkan kerumunan fotografer yang memotretnya dari berbagai sudut pandang tak sedikitpun mengoyak konsentrasinya. Dia terus saja melukis suasana halaman Balaikota yang pagi itu dipenuhi orang karena sedang diselenggarakan upacara peringatan Hari Jadi Ke-264 Kota Solo.
Menurut sang isteri, Cucu Saidah, yang baru dinikahi Faisal tiga bulan lalu, sebenarnya Faisal pernah belajar melukis dengan tangan. Namun, karena merasa kesulitan dan tidak nyaman, dia akhirnya memilih melukis dengan mulut.
”Suami saya memang tidak pernah belajar di sekolah seni formal, dia hanya belajar di sanggar-sanggar. Tapi keahliannya melukis sudah diakui, bahkan sejak 2003 lalu, Faisal sudah masuk keanggotaan Association Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA) yang berpusat di Swiss.
Setiap bulan ia harus mengirimkan satu lukisan ke sana,” jelas Cucu, yang mengaku pindah ke Solo karena menjadi Program Manager Hellen Keller Indonesia di Sumber.
Bangga
Hal itu dibenarkan oleh Faisal. Dia mengungkapkan dirinya merupakan satu dari sembilan pelukis Indonesia yang menjadi anggota AMFPA. Hal itu membuatnya bangga karena meskipun cacat, ia bisa menunjukkan kepada dunia bahwa ia bisa berkarya. Terlebih karyanya tidak kalah bagus dengan pelukis yang menggunakan tangannya.
”Saya melukis sejak berusia 16 tahun. Awalnya karena hobi, tapi akhirnya menjadi profesi. Dari melukislah saya bisa menafkahi diri dan keluarga. Satu impian saya yang belum terwujud sampai saat ini adalah menggelar pameran tunggal.” Ya, dengan mulut, Faisalmengekspresikan warna-warni dunia.
Hasil lukisan Faisal mengenai suasana halaman Balaikota Solo pagi itu didominasi warna cokelat. Tidak disangka bahwa lukisan itu dibuat menggunakan mulut.Bahkan Walikota Solo Joko Widodo pun dibuat kagum dengan hasil lukisan itu. Bukan karena pelukisnya, melainkan karena karya itu memang bagus. Jokowi pun berniat membelinya.
Saya senang melihat ini (lukisan Faisal-red). Terlihat sangat alami,” ujar Jokowi, saat melihat Faisal melukis kemarin pagi. - Oleh : Suharsih