Solo City View
Solo City View Solo City View
Solo City View
     
  Streaming Camera

SCV Home
Inside Solo
Arround Solo
 
     

     
  Seputar SCV

Lokasi Hotspot
Info Solo City View
Tentang Kami
Kontak Kami
Komentar Anda
 
     

     
  Partner Links

Pemkot Surakarta
Terang Abadi TV
UNS Sebelas Maret
Panasonic IT Comm
Telkom Speedy
Telkomnet
Plasa.Com
PT Telkom,Tbk
Telkomsel
Boleh.Com
Jakarta CityView
Pasar Kreasi
Pasar Solo
Solo Peduli
PT. Kalimas
 
     
     
 

Melapangkan Masa Depan Sang Puan

Saat baliho-baliho ukuran besar bergambar Puan Maharani menghiasi kota Solo dan sekitarnya, kemanakah gambar dari caleg-caleg DPR RI dari PDIP lainnya? Ada yang mengaku sungkan, ada yang baru berani memasang setelah mendapat persetujuan. Sedangkan struktural PDIP di daerah itu dinstruksikan memilih putri tunggal sang ketua umum.

Putri sang tokoh sentral PDIP ini memang dipasang sebagai caleg nomor satu untuk DPR dari Dapil V Jateng (Solo, Sukoharjo, Klaten, Boyolali). Untuk mengoptimalkan perolehan suara bagi Puan, Bambang Wuryanto ditunjuk sebagai ketua posko pemenangan Puan. Bambang tak mungkin menolak meskipun dia sendiri menjadi caleg DPR RI di Dapil IV Jateng (Wonogiri, Karanganyar, Sragen).

Posko Puan Maharani cukup besar dan berada di lokasi strategis di Jalan Bayangkara, Solo. Dalam peresmian Posko Puan Maharani di Solo beberapa waktu lalu, Bambang Pacul --demikian Bambang Wuryanto akrab disapa-- mengingatkan agar semua kader agar ingat tentang kesejarahan PDIP.

"Jangan sampai para kader PDIP pedhot oyot (putus akar) kalau tidak ingin hilang. Banyak kader-kader kita yang brilian lalu hilang tertelan bumi setelah meninggalkan PDIP. Faktor utamanya adalah karena pedhot oyot itu tadi," kata Bambang.

Yang dimaksud dengan pedhot oyot oleh Bambang adalah melupakan kesejarahan bahwa partai tersebut besar karena nama Bung Karno dan diteruskan oleh putrinya, Megawati Soekarnoputri; dan penerus selanjutnya adalah Puan Maharani yang saat ini menjadi caleg. Karenanya dukungan suara harus diberikan para kader kepada Puan.

”Banyak petinggi dan pengurus di PDIP ini hanya seorang penganggur jika tidak menjadi anggota dewan atau menjabat jabatan partai. Jika hilang karena pedhot oyot itu artinya akan kembali menjadi pengangguran,” demikian penegasan Bambang saat itu. Tidak jelas benar, apakah dia sedang menakut-nakuti atau memang demikian pembacaan riil Bambang terhadap kawan-kawannya.

Saat itu semua pengurus struktural PDIP tingkat cabang di seluruh Dapil V Jateng dikumpulkan. Dalam pidato bersemangat itu pun Bambang meminta kesediaan mereka mendukung Puan. Jawabannya pasti, mendukung Puan sepenuhnya.

Bahkan lanjut Bambang, di hadapan Megawati, Ketua DPC PDIP Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo telah menyanggupi mengerahkan perolehan suara besar-besaran bagi Puan Maharani hingga melampaui BPP.

Ketika dikonfirmasi Rudy tidak membantah hal tersebut namun juga tidak membenarkan seutuhnya. Dia hanya mengatakan, "Itu gaya Mas Bambang Pacul dalam meyakinkan kader. Tapi bahwa saya sepenuhnya mendukung Mbak Puan, tak bisa diragukan lagi. Seratus persen saya mendukung," ujarnya.

Menurutnya, tidak ada salahnya jika dia memberikan instruksi kepada jajaran sturuktural partainya dari tingkat cabang hingga anak ranting untuk memberikan suara kepada Puan dalam pemilu legislatif mendatang. Alasannya, Puan adalah salah seorang ketua DPP PDIP.

"Secara hirarkis organisasi saya merasa tidak ada salahnya memberikan instruksi itu. Rakyat tentu bebas memilih, tapi kepada struktural partai saya minta untuk mendorong perolehan suara bagi Mbak Puan yang menjabat Ketua DPP PDIP Bidang Pemberdayaan Perempuan," ujarnya. Rudy tidak menjelaskan apakah dia juga akan berbuat serupa seandainya yang mencalonkan diri lewat Solo itu adalah jajaran ketua DPP selain Puan.

Dia mengakui semula berinisiatif memasukkan semua suara ke Puan Maharani. Setelah Puan mencapai BPP maka luberan suara bisa dipakai caleg di bawahnya. Namun setelah MK memutuskan keterpilihan berdasar suara terbanyak, dia mempersilakan masing-masing caleg menjaring pemilih masing-masing, meskipun dia tetap akan mengoptimalkan suara sebanyak-banyaknya untuk Puan.

Karenanya, Rudy juga membantah selentingan yang mengatakan dia melarang caleg DPR RI dari PDIP memasang gambar. "Tidak benar itu. Silakan saja memasang gambar, silakan berkampanye di kota Solo. Rakyat yang akan menentukan. Buktinya ada juga caleg DPR RI dari PDIP yang memasang gambar di kota Solo dan tetap kami perbolehkan kok," ujarnya.

Tapi apakah caleg-caleg lainnya juga berani melakukannya?

Aria Bima, anggota DPR RI dari FPDIP kembali menjadi caleg dari partai yang sama. Seperti lima tahun yang lalu, dia maju dari Dapil V Jateng dan juga pada nomor urut yang sama. Yang membedakan kali ini dengan lima tahun yang lalau adalah, yang berada di nomor urut satu saat ini putri kesayangan Megawati, Puan Maharani.

Tentu saja Bima harus berhitung ulang untuk menggeber perolehan suara. Maklum yang menjadi 'pesaingnya' adalah putri sang ketua umum dan sekaligus cucu Bung Karno, tokoh yang mendapat tempat kehormatan teramat tinggi di partai yang mengaku penerus ideologi marhaenisme tersebut.

Aria Bima yang mendapat nomor urut tiga, mengaku lebih banyak berkonsentrasi menjaring suara di Sukoharjo dan Klaten. Sedangkan Nusyirwan yang merupakan caleg nomor urut dua, memilih bergerilya di Boyolali.

"Di Kota Solo saya juga berkampanye dengan cara yang memang tidak menyolok. Tapi saya lebih banyak mencari dukungan di Sukoharjo dan Klaten. Warga di kedua daerah ini telah cukup lama dekat dengan saya. Untuk Kota Solo saya memberi keleluasaan bagi struktural partai mengoptimalkan massa bagi Mbak Puan, tapi saya juga mengambil dukungan di kota dari massa yang mungkin tidak terjangkau oleh stuktural," ujar Aria Bima.

Tapi apakah dia tetap tidak akan memasang gambar di Solo, Aria Bima beralasan dua pekan menjelang Pemilu dia baru akan memasang puluhan poster dan baliho di beberapa lokasi strategis baik di kota Solo maupun di ketiga kabupaten lainnya.

"Toh waktu yang menentukan pilihan di masa akhir-akhir itu. Sekalian menunggu gambar-gambar dari caleg lain kelihatan lusuh, biar gambar saya yang masih kelihatan bagus. Semarang satu dua baliho sudah saya pasang, tapi jumlah yang banyak masih agak nanti," kilah politisi asal Solo tersebut sedikit berkelakar.

Ada juga caleg yang 'cukup berani'. Bimo Putranto, caleg DPR RI dari PDIP urutan keempat, tidak hanya memasang gambarnya di luar kota. Beberapa poster ukuran besar terpasang juga di kota. Bahkan lengkap dengan tulisan 'sang putra daerah'. Banyak kader PDIP sendiri yang menyebut tulisan itu bermaksud menohok Puan yang memang tidak ada sangkut-pautnya dengan Solo.

Tapi Bimo Putranto juga beralasan, berani memasang gambar-gambar itu setelah mendapat persetujuan dari Puan Maharani. Meskipun sesama caleg yang harus bersaing, Bimo Putranto mengaku dirinya tidak akan berani 'menabrak' Puan.

"Mbak Puan mempersilakan bahkan mendorong saya dan caleg-caleg lainnya untuk meraih dukungan di semua tempat di daerah pemilihan kami. Saya berani melakukan itu selain telah ada dorongan dari Mbak Puan dan setelah mempelajari aturan terbaru tentang suara terbanyak. Mungkin caleg-caleg lain masih sungkan sehingga berkampanye secara diam-diam," ujarnya.

"Saya sudah katakan kepada beliau, ‘Mbak, saya tidak akan melawan Mbak Puan. Saya hanya akan menjadi anggota DPR bersama-sama Mbak Puan. Saya ingin mendampingi Mbak Puan menuju Senayan’. Mbak Puan bisa memahami kok. Beliau tidak ada masalah dengan itu," ujar Wakil Ketua DPD PDIP Jateng tersebut.

Selanjutnya kampanye untuk Puan dibarengi dengan memasang baliho-baliho ukuran besar bergambar Puan bersanding dengan ibu dan kakeknya. Ada nama Puan Maharani di bawah gambar ‘foto keluarga’ tersebut. Masih pula diberi kalimat penegasan; Putri Tunggal Megawati Soekarnoputri. Di baliho lain ada pula kalimat; Pejuang Sejati Takkan Pernah Berhenti. Tak jelas siapa yang dimaksud sebagai pejuang diantara tiga foto yang terpampang.

Tak cuma itu, para caleg PDIP untuk DPRD kota/kabupaten dan DPRD propinsi juga menyertakan foto Puan --dan pastinya Megawati—pada poster dan baliho yang ditempel di tempat-tempat umum hingga mobil-mobil angkot.

Tak jarang kita akan tersenyum simpul melihat poster yang mengenaskan karena sang caleg yang ‘mengiklankan diri’ justru kehabisan ruang untuk memasang fotonya karena ruang yang sempit itu telah dipenuhi gambar Mega dan Puan.

Ada juga poster caleg DPR RI dari PDIP yang memasang foto dirinya dan Puan. Foto dirinya justru dipasang agak ke belakang dengan sikap serius layaknya foto diri setengah badan untuk kebutuhan administrasi sekolah. Sedangkan foto dipasang lebih ke depan dengan pose melambai atau mengacungkan jempol.

Jelas secara gambar, Puan lebih mendominasi. Si pemasang gambar jadi terlihat hanya sebagai pelengkap saja. Tapi yang jauh lebih mengusik pemikiran adalah cukup unik juga; seorang caleg ‘beriklan’ namun juga mengiklankan ‘pesaingnya’, mengingat keduanya sama-sama caleg DPR RI yang dipilih oleh pemilih yang sama di daerah yang sama pula.

Sedemikian besar ‘proyek pemenangan’ Puan sampai semua harus banting tulang untuknya. Apa target yang ingin didapatkan PDIP untuk itu. Padahal bukan tidak mungkin, jika caleg-caleg lainnya harus mengerem kampanye demi rasa sungkan kepada Puan, justru akan berujung pada kegagalan.

Banyak massa mengambang yang belum menentukan pilihan bukan tidak mungkin akan direbut oleh partai-partai lain yang lebih progresif menggalang dukungan secara fair dan terbuka. Demikian juga dengan para pemilih pemula.

PDIP tentunya punya hitungan lain. Seorang kader senior di PDIP mengatakan, Puan sedang dipersiapkan untuk menggantikan posisi ketua umum menggantikan ibunya pada kongres PDIP mendatang. Terpilih ataupun tidak dalam pilpres nanti, Megawati akan meletakkan jabatan selaku ketua umum partai. Tentunya yang digadang-gadang tak jauh darinya, yaitu anak kandungnya sendiri.

Untuk pencitraan sebagai figur yang dimaui arus bawah itulah maka Puan dipasang di Dapil V Jateng, daerah basis dukungan utama PDIP secara nasional. Di kandang banteng itulah Puan harus dikatrol sedemikian rupa untuk pencitraan sebagai tokoh yang tidak secara tiba-tiba dipasang sebagai ketua umum. ”Harus ada kesan bahwa dia memang terbukti telah mengakar,” demikian kata kader tersebut.

Rakernas IV PDIP juga dipilihkan tempat di Solo dan Puan juga dipasang sebagai ketua panitia. Sejak sebelum Rakernas IV PDIP digelar di Solo 27-28 Januari 2004, bahkan hingga hari ini baliho-baliho bergambar Puan Maharani terpasang di beberapa titik strategis di Kota Solo dan daerah-daerah di sekitarnya.

Tidak hanya di jalan-jalan, poster dan banner bergambar Puan juga menghiasi sejumlah sudut The Sunan Hotel, tempat Rakernas diadakan. Bahkan di ballroom yang menjadi pusat semua kegiatan Rakernas foto sang ketua panitia dalam ukuran besar juga tergelar di dinding. Demikian juga di ruang media center.

Media massa sejak awal terlalu bersemangat pada penetapan cawapres sebagai agenda Rakernas. Bukan salah, karena sebelumnya Sekjen PDIP Pramono Anung menjanjikan partainya akan menjadi partai pertama yang menetapkan capres cawapres sebelum Pemilu legislatif digelar. Penetapan akan dilakukan di ajang Rakernas di Solo, demikian ditegaskan Pramono berulang kali.

Media massa menyoroti tajam hasil Rakernas yang kembali hanya menetapkan kriteria dan menjaring nama-nama, tak jauh beda dengan Rakernas sebelumnya di Makassar. Namun dampak dari itu justru Rakernas Solo melambung nama Sultan HB X sebagai tokoh terpopuler. Sultan yang kader Golkar dan juga capres jauh lebih diuntungkan dari Megawati sendiri justru di forum partainya sendiri.

Tapi tujuan internal Rakernas tetap juga tercapai. Tujuan itu adalah menjaga opini agar tetap leading, melakukan konsolidasi internal untuk menghadapi pemilu legislatif dan memperkenalkan Puan lebih dekat kepada seluruh konstituen dari sabang sampai merauke. Dengan ajang tersebut Puan tampil ‘tokoh nasional’ di partainya.

Selain itu dipilihnya Solo sebagai tuan rumah Rakernas juga akan berdampak pada naiknya popularitas sang putri mahkota di daerah pemilihannya sendiri.

Penilaian dan analisa itu tidak dipungkiri oleh orang dalam sendiri. Hadi Rudyatmo menilai hal seperti itu sebagai suatu yang wajar. Menurutnya, Puan adalah salah seorang Ketua DPP PDIP dan juga ketua panitia Rakernas, sehingga wajar juga mendapat dampak popularitas setelah berhasil menunaikan tugas di Rakernas yang berjalan mulus.

"Nama Mbak Puan segera menjadi perhatian. Di internal partai, para peserta Rakernas semakin mengenal Mbak Puan lebih dekat. Di eksternal partai, calon pemilih di Dapil V juga semakin tahu Mbak Puan," ujar Bimo Putranto, Wakil Ketua DPD PDIP Jateng.

Bahkan, menurut Bimo Putranto, setelah Rakernas PDIP selesai sebuah survey dilaksanakan. Hasil survei itu menujukkan bahwa nama Puan menduduki urutan teratas untuk tingkat keterpilihan dalam pemilu legislatif mendatang. Sayangnya, Bimo Putranto tidak menyebutkan siapa pembuat survei dan bagaimana metode yang digunakan.

Ini dunia politik, Bung. Silakan tersenyum simpul, tapi harap jangan terheran-heran. Karena sekali lagi ini dunia politik. Dan dunia politik kita memang belum terlalu jauh bergeser dari jualan figur sentral. (Tim Tabloidkampus.com)




 
     

     
  Kota Solo
» Pesawat Mimika Air jatuh, diduga karena tabrak gunung
» Mei, proyek penataan kawasan bantaran sungai Bengawan Solo dimulai
» Pemkot bakal sertifikasi laik fungsi bangunan publik
» Pemkot bakal sertifikasi laik fungsi bangunan publik
» Komnas HAM temukan pelanggaran HAM dalam Pemilu

Baca Arsip Selengkapnya
 
     

     
  Info Solo City View
» Speedy Writing and Photo Competition 2009
» Sering Telepon ke Arab Saudi, Gratis Umroh!
» Telkom Global 01017
» SLI 007 Lebih Jernih
» Promo Paket Kasih Speedy
» Telepon Rumah Rejeki Tumpah
» Telepon Hemat Panggilan ke Tanah Suci
 
     
     
 
Umroh Gratis

Telkom Global

Order SPEEDY

Lokasi TELKOM Hotspot
Flexi IVAS
VENTUS Flexi Land
Flexi Tone Pasar Kreasi
Telkomsel Speedy Prepaid
Telepon Rumah Rejeki Tumpah
Flexy Features
Panasonic
 
     
©2010 Solo City View - Telkom Solo