Karangasem (Espos) Komisi IV DPRD mempertanyakan hilangnya meriam milik Museum Radya Pustaka, seperangkat gamelan corobalen di Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenbud) dan wilahan gamelan di Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari Solo.
Komisi IV berencana mengundang pihak-pihak terkait kehilangan benda bersejarah itu pada pekan depan. Ketua Komisi IV DPRD Solo, Satryo Hadinagoro saat ditemui Espos, Kamis (19/2), di Gedung Dewan, mengungkapkan, pada masa pemerintahan Walikota Hartomo, Pemkot Solo pernah meminjam meriam milik Museum Radya Pustaka dan diletakkan di depan Balaikota.
Namun keberadaan meriam itu hingga sekarang, kata dia, tidak jelas, bahkan Satryo pernah menanyakan langsung kepada Pemkot tentang keberadaannya.
“Saya sudah memberikan batas waktu selama satu pekan ini kepada Pemkot untuk memberikan jawaban tentang benda bersejarah itu. Lha wong arca Radya Pustaka yang hilang saja ditindaklanjuti sampai ke pihak kepolisian, masak meriam yang jelas-jelas digunakan Pemkot malah dibiarkan.
Di samping itu gamelan corobalen di Disparsenbud dan wilahan gamelan di Gedung Wayang Orang Sriwedari juga hilang entah ke mana? Mestinya hilangnya benda-benda tersebut harus dilakukan pengusutan oleh aparat penegak hukum,” tandasnya seraya menjelaskan bakal memanggil sejumlah pihak terkait ke Komisi IV pada Selasa (24/2) pekan depan.
Sudah dikembalikan.
Sementara itu, Kepala Disparsenbud Solo Purnomo Subagyo saat dihubungi Espos, Jumat (20/2) mengaku belum mengetahui keberadaan gamelan corobalen yang ada di kantor dinasnya.
Mantan Kabag Umum Sekretariat Daerah (Setda) Pemkot Solo, Eny Tiyasni Susana menjelaskan, meriam tersebut sudah dikembalikan ke Museum Radya Pustaka pada tahun 2008 lalu.
Sebelumnya, urai Eny, meriam itu memang sempat dipajang di depan Balaikota. Kemudian meriam itu dibongkar dan diletakkan di belakang Balaikota sampai beberapa waktu.
”Lalu, meriam diserahkan kembali ke Museum Radya Pustaka, yang sekarang tergeletak di depan Museum itu. Barang-barang inventaris museum itu bakal ditata kembali oleh Pak Kalinggo. Sedangkan keberadaan gamelan corobalen dan wilahan gamelan di WGO Sriwedari, saya tidak mengetahui persinya,” pungkasnya. - Oleh : trh