Bandung, 3 Maret 2009 - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Serikat Karyawan Telkom akan menggelar kegiatan donor darah massal serentak di kantor-kantor Telkom di seluruh Indonesia. Kegiatan amal yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2009 tersebut rencananya diikuti sekitar 9.000 karyawan dan masyarakat umum.
Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan sekalipun kegiatan donor darah sebenarnya merupakan program rutin di Telkom, namun kegiatan kali ini sangat jauh berbeda dari sisi skala dan pengelolaannya. Kegiatan kali ini juga diselenggarakan bersamaan dengan Hari Jadi ke-9 Sekar Telkom sehingga mampu melibatkan begitu banyak karyawan.
Dikatakannya, karena jumlah pendonor yang terlibat diprediksikan mencapai ribuan orang, kantor-kantor Telkom di seluruh Indonesia akan terlihat semarak. ”Kami memang ingin menjadikan kegiatan donor darah sebagai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Bagaimanapun, kondisi supply darah seringkali begitu terbatas dibanding demand-nya yang terus berkembang. Apalagi, donor darah sendiri bila dilakukan secara teratur bisa berdampak positif bagi kesehatan para pelakunya.
”Kami ingin donor darah menjadi semacam life style atau budaya di masyarakat, di mana orang merasa belum lengkap apabila belum menjadi pendonor darah,” ujarnya. ”Dengan begitu maka kita tidak akan mendengar lagi kasus-kasus kemanusiaan yang terjadi akibat kurangnya stok darah,” tambahnya.
Sistem Donor Darah Terpadu
Tidak seperti biasanya, kegiatan Donor Darah kali ini bukan hanya besar dari sisi jumlah pesertanya yang diperkirakan melibatkan sekitar 9.000 pendonor di 51 lokasi di seluruh Indonesia, lebih dari itu juga diselenggarakan melalui dukungan sistem informasi on line yang terintegrasi secara nasional melalui aplikasi SIDORA (Sistem Donor Darah).
SIDORA merupakan Sistem Informasi yang dimaksudkan untuk melakukan proses pencatatan administrasi pada kegiatan donor darah, serta untuk mengatur proses antrian yang sedang berlangsung pada kegiatan donor darah. Sistem ini mengacu pada Standar Operasi Prosedur kegiatan Donor Darah yang telah diterapkan di Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung, yang menjadi contoh standar operasi kegiatan donor darah di Indonesia, baik dari segi prosesnya, maupun form isian yang dipergunakan.
”Mengingat banyaknya proses yang harus dilalui pada kegiatan donor darah, maka perlu manajemen antrian yang baik agar kegiatan bisa berjalan lancar, terlebih lagi jika calon pendonor cukup banyak,” jelas Eddy Kurnia.”Diperlukan sebuah sistem yang mampu mengatur proses antrian, serta mampu pula melakukan kegiatan administrasi pencatatan masing-masing tahapan, selain itu juga bisa memberikan pelaporan mengenai kondisi kegiatan donor darah yang sedang dilakukan,” paparnya.
Para pendonor yang sebelumnya dikelompokkan melalui kartu donor berdasarkan wilayah tertentu sehingga harus mendaftar ulang bila ingin menyumbangkan darah di luar wilayah kartunya, kini akan mendapatkan nomor identitas (ID) unik yang berlaku nasional. Dengan demikian tidak ada lagi batasan wilayah yang menyebabkan pendonor kurang leluasa dalam menyumbangkan darah di tempat yang diinginkannya.
Sistem Informasi Donor Darah yang digagas dan dibangun melalui kerjasama Telkom dengan tim Sekar ini dimaksudkan agar kegiatan donor darah menjadi lebih transparan dan mudah dikelola (manageable) dalam skala besar. Seluruh database yang terkait dengan kegiatan donor darah terrekam dan kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung juga menjadi transparan. Secara agregat maupun parsial, kondisi ketersediaan darah dengan sendirinya dapat dipantau, sehingga aplikasi ini benar-benar akan membuat kegiatan donor darah semakin efektif bagi tujuan kemanusiaan.
Eddy Kurnia tidak mempermasalahkan bila sistem ini kemudian dimanfaatkan oleh PMI untuk skop nasional. Bila memang terbukti berjalan baik selama enam bulan, maka menurut Eddy Kurnia, sistem ini bisa saja diangkat sebagai sistem yang berlaku nasional,” ujarnya