Solo (Espos) Keberadaan tiga bandara internasional sekaligus dalam satu wilayah di Jateng dan DIY dianggap tidak efisien dan manajemen keamanannya juga tidak mudah.
Demikian dikemukakan Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) saat ditemui wartawan di Hotel Sahid Jaya Solo, Rabu (4/3).
“Saat ini, di wilayah Jateng-DIY terdapat tiga bandara berstatus internasional, yakni Adisucipto Yogyakarta, Ahmad Yani Semarang, dan Adisumarmo Solo. Untuk itu, mestinya hanya ada satu bandara yang berstatus internasional dalam satu wilayah.
Sebab di negara manapun tidak ada lebih dari satu bandara internasional di satu wilayah, itu tidak efisien dan manajemen keamanannya juga sulit,” tegas Jokowi.
Lebih lanjut Jokowi mengatakan dengan adanya manajemen fokus tersebut, masing-masing bandara nantinya akan memiliki peran yang berbeda antar satu bandara dengan bandara lain yang ada di sekitarnya.
Sehingga, antara bandara-bandara tersebut akan dapat saling melengkapi. “Jika saat ini ada tiga bandara, maka dapat dimungkinkan manajemen berupa satu bandara internasional, sementara bandara lainnya adalah untuk domestik,” katanya.
Dari tiga bandara yang ada di Jateng-DIY tersebut, Jokowi menyoroti Bandara Adisucipto Yogyakarta dengan Bandara Adisumarmo Solo. Namun Jokowi mengaku pihaknya juga belum bisa memastikan bandara mana yang statusnya bakal menjadi bandara internasional.
“Yang pasti, bandara berstatus internasional hanya ada satu, bisa saja Bandara Yogya yang nantinya berstatus internasional, sementara Solo yang domestik. Tapi bisa juga sebaliknya,” urainya.
Diungkapkan Jokowi harapan agar diadakan manajemen fokus tersebut telah memperoleh respons dari Departemen Perhubungan (Dephub) saat melakukan kunjungan ke terminal baru Bandara Adisumarmo Solo, Selasa (3/3).
Jokowi menuturkan pihak Dephub telah berencana untuk membuat manajemen fokus tersebut. “Kemarin (Selasa, 3/3) itu, sudah ada pembicaraan bahwa nantinya akan ada fokus mana Bandara yang melayani penerbangan dalam negeri dan mana yang luar negeri,” terangnya. - Oleh : sry