Kelompok perempuan yang rata-rata sudah berusia di atas 35 tahun itu, jelas tampak nervous dan tidak biasa dengan catwalk yang disediakan untuk mereka. Maka, rata-rata aksi peragawati mereka tak kesampaian, selain hanya berjalan ndlujur, sambil ekspresi wajah menahan rasa jengah dan malu.
Peragaan busana itu, berlangsung di salah satu rumah warga di Kampung Tegalrejo, Jebres, Solo, Minggu (5/4) petang. Tim penggerak PKK di kampung tersebut, beberapa tahun ini rutin melakukannya untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh tanggal 21 April.
“Peragaan busana ini mewajibkan semua peserta untuk berkebaya, tapi semuanya harus dilakukan sendiri, tidak boleh menggunakan jasa salon,” ujar Ny Sugiyanti Suparno, salah seorang pengurus PKK di Tegalrejo.
Maka, ada sekitar 50 peserta yang semuanya bersanggul dan berkebaya sesuai selera dan kemampuan masing-masing. Misalnya, ada peserta yang benar-benar tidak bisa menyanggul rambutnya, akhirnya memilih penataan rambut sekenanya, dikucir dan diberi hiasan pita-pita kecil seperti gaya putri China di masa lalu.
Ny Parno memaparkan, niat menggelar kegiatan itu, semata-mata untuk memacu ibu-ibu rumah tangga untuk mampu berdandan dan mengenakan busana tradisional yang merupakan cerminan budaya bangsa. Diakui, sekarang ini tak mudah menemukan perempuan yang terampil berbusana kebaya, karena sekarang ini orang lebih condong berpikir dan bertindak praktis.
Kalaupun terpaksa berbusana kebaya pada kesempatan tertentu, perempuan masa kini cenderung memanfaatkan jasa salon atau perias profesional lainnya. Tinggal datang, duduk, bayar dan semua beres.
“Jadi dengan ada kegiatan seperti ini kami seperti diingatkan, idealnya perempuan Indonesia paham dan bisa memakai kebaya atau bersanggul tanpa bantuan, karena ini identitas kita. Apalagi sebagai pendamping suami, kami tentu juga wajib bisa merias diri demi keharmonisan keluarga,” imbuhnya.
Karena hanya kegiatan di kampung, lomba peragaan busana itu pun tidak menjanjikan hadiah spektakuler. Hanya sekadarnya, seperti handuk, mangkuk dan sebagainya. Bahkan sebagai doorprize semua peserta diwajibkan membawa bingkisan sendiri untuk ditukar-tukarkan sesama peserta. Sedangkan yang terpilih sebagai juara adalah Ny Enjang Suherli, Ny Slamet Riyadi dan Ny Sunardi.
“Yang menang ini memang kami pilih berdasarkan musyawarah juri. Tapi sebenarnya tidak ada yang kalah, karena semua sudah berusaha tampil sebaik-baiknya. Tidak ada yang buruk,” imbuh Ny Sayem Gunawan, sesepuh kampung yang kemarin menjadi salah satu juri lomba. (Ari Kristyono)