Kris Fathoni W - detiksport
London - Pernah berkostum Arsenal, Robert Pires tak sempat menjejakkan kaki di Stadion Emirates. Kali pertama dia hadir di sana, Pires langsung tersentuh dengan sambutan luar biasa.
Pires yang kini membela Villarreal pernah jadi andalan Arsenal selama periode 2000 sampai 2006. Kala itu dia jadi bintang pujaan banyak fans 'The Gunners'.
Akan tetapi, dalam masa-masanya bersama Arsenal, yang jadi "rumah" Pires adalah Stadion Highbury. Baru setelah dia hijrah, markas Arsenal pun ikut pindah. Itu mengapa Pires belum pernah berada di Emirates.
Kesempatan pertama hadir di sana datang, Kamis (16/4/2009) dinihari WIB, kala Villarreal yang Pires bela dijamu Arsenal dalam laga Liga Champions.
'Kapal Selam Kuning' akhirnya memang kalah telak sehingga tersingkir. Tapi Pires juga tak kecewa amat-amat karena ada sisi sentimentil yang tersentuh dalam laga tersebut, usai dia mendapat sambutan hangat di Emirates.
"Secara pribadi, itu sangat menyenangkan dan menginspirasi. Sejujurnya aku tak mengharapkannya. Meski aku tahu para pemain Arsenal tak pernah melupakan koleganya, ini tetap menyentuh hatiku."
"Aku juga jadi tahu rasanya bermain di stadion ini karena aku belum pernah ke sini. Meski kalah, ini tetap akan ada dalam kenanganku untuk waktu yang lama. Ini sudah jadi demikian emosional," aku Pires di Goal.
Minggu lalu Pires membeberkan kenangan saat ia memutuskan meninggalkan Arsenal. Final Liga Champions 2006 melawan Barcelona adalah latar belakang ia melakukannya. Ketika Jens Lehmann dikartu merah di menit 18, dan manajer Arsene Wenger menariknya keluar, di situlah Pires merasa dirinya dipaksa menelan kenyataan sangat pahit.
"Kalau diingat-ingat, rasanya selalu menyakitkan. Wenger tahu itu dan kami masih suka membicarakannya. Aku tak pernah setuju dengan dia bahwa itu keputusan yang tepat. Itu adalah momen terburuk dalam karirku," cetus Pires.
Ia melanjutkan, dua hari kemudian ia menghadap Wenger untuk mengatakan dua hal. Pertama, ia tak meneruskan karirnya di Arsenal dan akan memilih Villarreal. Kedua, ia bertanya kenapa waktu itu Wenger mengeluarkan dirinya dari pertandingan besar tersebut.
"Dia bilang, dia menyesal karena menarikku keluar. Dia pun merasa itu memalukan. Tapi dia tidak punya pilihan karena waktu itu Arsenal harus bermain lebih defensif."
"Tapi aku sudah tak marah lagi dengan Arsene. Kejadian itu tak bisa menghapus masa enam tahun ketika aku memenangi banyak piala, belajar dari dia, meningkat kepercayaan diri dan berjalan baik dengan timnas Prancis," sambungnya
Maka, ketika Arsenal kini melenggang ke babak semifinal, hanya satu yang ada di benak Pires: berharap bekas timnya itu meraih sukses besar.
"Ini adalah tim besar yang punya banyak potensi, cepat, segar dan muda. Aku ingin melihat mereka, bersama Wenger, ke final dan jadi juara. Hari ini aku tetap jadi fans tim ini, terutama karena mereka memainkan tipe sepakbola yang aku cintai," tutup Pires. ( krs / din )