| |
Para Tokoh bicara tentang Generasi Bangsa Program CSR Telkom-Republika
Pada saat pelatihan Guru-guru, program CSR Telkom-Republika selama dua hari, Jum'at-Sabtu (14-15/11) di Aula Best Datel Telkom Solo. Banyak pelajaran yang dapat dipetik tidak hanya para guru SD, SMP dan SMA se Soloraya, tentunya pembaca juga ingin mengetahui, apa dan bagiamana para tokoh pembicara menyampaikan buah pemikirannya. Setelah dibuka Direktur IT & Supply PT Telkom Indra Utoyo (mewakili Dirut PT Telkom), acara dilanjutkan dengan paparan Direktur Pemasaran PT Republika Media Mandiri, Nucky Surahmat. Ia menyatakan, pelatihan ini sengaja mendatangkan para tokoh (public figur) diberbagai bidang keahlian. "Mereka adalah orang-orang hebat dan sibuk. Namun dengan ketulusannya, bersedia sebagai pembicara. Untuk itulah dimohon rekan-rekan Guru dapat memanfaatkan sekali," kata Nucky. Berikut pemikiran, paparan pembicara Program CSR Telkom-Republika, antara lain : 1. Direktur Bank Rakyat Indonesia, Drs Sarwono Sudarto, MBA Tugas guru adalah memberi motivasi kepada murid agar menjadi lurus. Tentu ia harus selalu meng-upgrade diri dengan belajar dan belajar. Agar murid-murid termotivasi tidak hanya cara belajarnya, tapi budi pekertinya. Ia harus mempunyai cita-cita yang baik yang berguna bagi nusa dan bangsanya, ujar Direktur PT Bank Rakyat Indonesia, Sarwono Sudarto. Dalam pandangannya, guru yang profesional, guru yang berkompentensi dan guru yang bermotivasi perlu mengasah 4 pilar skills. Yakni, learning to know, learning to do, learning to be dan learning together. Menurut salah satu Direktur di BRI ini, seorang guru harus seperti ilmu Padi. Makin berisi, semakin menunduk. Seorang pendidik, kata Sarwono, harus mempunyai kepribadian artistisk, realistik dan pengusaha, disamping mampu mengelola sejumlah change, confusion, anxiety, gradual change, frustation dan false start, tandasnya. Bagi Sarwono, teman seribu itu masih kurang, musuh satu itu justru terlalu banyak. Bahwa seorang guru wajib menanamkan nilai-nilai budaya guru kepada lingkungannya. Hing ngarso sung tulada, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Dengan kata lain, mulailah dari dirimu sendiri sebelum mengajak orang lain. Seharusnya guru-guru semakin silih asuh, silih asih dan silih asuh. Seorang guru dimata Sarwono, ia harus mampu memberikan spirit keteladan bagi lingkungannya. Ia harus jujur tata pikirnya, jujur tata bixcaranya, jujur tata lakunya dan jujur pula tujuannya, ujarnya. 2. Direktur IT & Supply PT Telkom, Ir Indra Utoyo, MSc Dalam paparannya, Indra Utoyo langsung menyampaikan apa itu borderless, free trade, real time, democratis and transparan. Jika dicermati, banyak perubahan paradigma, abad 20 perubahan dapat diprediksi, namun memasuki abad 21 perubahan itu sulit diprediksi. Jika dulu skalanya ruang kini skalanya waktu (time to market). Dulu orientasi produk, dan perdagangan fisik, kini orientasi pelanggan dan perdagangan elektronik (E-comerce). Dulu information terbatas, dan pasar domestik, kini banjir information dan pasar global, terangnya. Lalu, mengapa TI itu diperlukan? Karena adanya peluang pemanfaatan internet untuk mendorong pertumbuhan dalam bidang Ekonomi, Hankam, Sosial Budaya dan Politik dalam Pemerintahan (Government). Di bidang Ekonomi, misalnya, internet dapat memberdayakan UKM, penciptaan lapangan kerja, penciptaan ekonomi jaringan, peningkatan produktivitas dan effisiensi. Di bidang Hankam, sebagai pengendalian sumber daya nasional strategis, dan seterusnya, tandasnya. Pada bagian lain, Dir IT & Supply menjelaskan tentang arah pembangunan ICT Nasional, dan kesiapan memasuki Knowledge Society. Sementara, jumlah pelanggan telepon di Indonesia lima tahun terakhir tumbuh sangat pesat. Namun demikian, penetrasi telepon di Indonesia masih rendah dibanding dengan sejumlah negara tetangga. Hal demikian juga berlaku di penetrasi internet, Indonesia masih rendah 8,1% namun pengguna Internet ke-13 terbesar dunia, termasuk didalamnya sisi gelap TI 3G (girls, games and gambling), ungkapnya. 3. GM Telkom Kandatel Solo, Ir Dwi Heriyanto, MT GM Kandatel Solo Dwi Heriyanto, dalam paparannya, menjelaskan tentang produk Telkom. Sesi ini tak kalah heboh mengingat peserta banyak yang belum familier dengan internet, meski sebagian telah berlangganan Flexi. "Belajar Internet itu mudah dan murah, bersama tuan Google kita dapat mengetahui apa saja yang dibutuhkan. Manfaat internet bagi kalangan guru-guru, antara lain, memudahkan proses belajar mengajar, dan dapat mengakses buku sekolah elektronik. Lalu, mengapa internet kini telah menjadi kebutuhan? Jawabannya, hampir seluruh pertanyaan ada jawabannya di internet. Kecuali pertanyaan kapan saatnya tiba kematian! Dengan internet, dunia menjadi semakin kecil dan seluruh tempat dibumi bisa dijangkau secara cepat. Melalui internet, pengamatan secara real time kondisi suatu lokasi dengan mudah dapat dilakukan. Internet pula, berbagai persoalan bisnis tersolusikan, dan memanage bisnis jauh lebih cepat dan efektif. Sedangkan kebutuhan individu terpuaskan, terang Dwi. Lalu, bagaimana internet membantu dunia pendidikan? Melalui Depdiknas pemerintah telah mengembangkan Jardiknas. Yakni mengintegrasikan ICT (Information and Communication Technology) dalam pembelajaran dan pengelolaan manajemen pendidikan, serta berbagai kegiatan pendidikan, terang Dwi. Di akhir paparannya, Dwi mengimbau all peserta untuk segera berlangganan Speedy maupun Flexi dengan tarif khusus (diskon). Mengingat internet telah menjadi kebutuhan, kini Kota Solo telah menjamur Warnet maupun Game Online hingga dipelosok desa. Lebih dari 120 Warnet ada di kota Solo dan Warnet besar (lebih dari 20 client) bermunculan. Untuk internet Hotspot banyak dijumpai dilokasi publik, kampus maupun tempat wisata maupun lokasi bisnis. "Kini mengajar lebih mudah dan mengasyikkan," tandasnya. 4. Direktur SDM PT Unilever Indonesia, Josef Bataona Josef Batona didepan Guru-guru terus terang menginginkan agar dalam penyampaian kepada anak didik memahami perlunya komunikasi yang efektif. Dengan kata dan nada bicara jelas, seorang guru dituntut pula untuk dapat mendengar, berbicara, membaca dan menulis dengan runut, katanya. Ia pun mengoreksi kecenderungan kita, bukanlah mendengarkan untuk memahami, tetapi untuk menjawab. Padahal kebutuhan jiwa manusia yang paling mendalam adalah untuk dimengerti dan dihargai, ungkapnya. Selanjutnya, ia memberikan sejumlah tips, antara lain, bahwa kecenderungan kita menyaring apa yang kita dengarkan melalui saringan masa lalu kita. Untuk itulah, perlu mendengarkan secara empatik, apabila tidak yakin kita mengerti. Jika tidak yakin bahwa orang lain merasa telah dipahami. Apabila interaksi yang ada memiliki komponen emosional yang kuat dan jika permasalahannya adalah permasalahan yang penting, katanya. 5. Wartawan Senior (Wakil Pem Red) Harian Republika, Agung P Vazza Dalam sesi penulisan ilmiah populer inilah, peserta heboh luar biasa. Terutama pada saat Agung P Vazza menjlentrehkan tulisannya berupa kajian, pandangan, dan argumentasi ilmiah yang disajikan dalam bahasa populer, mudah dipahami masyarakat luas. Ada sejumlah fakta, bahwa berita, laporan dan feature itu lain dengan opini yang berupa, artikel, esai, tajuk dan kolom serta fiksi di cerpen, cerbung dan novel meski dalam satu kelompok tulisan. Selaku Redaktur Senior, Agung mengajak peserta untuk memperhatikan kelayakan sebuah tulisan di media koran. Ada aspek teknis berupa aktualitas, kedekatan, struktur tulisan, fokus dan akurasi dan non teknis berupa visi misi media, popularitas, kompetensi, unik dan waktu pembaca harus dimengerti oleh seorang penulis. Namun demikian, struktur tulisan masih mengacu kepada judul berita, pengantar (lead), pokok bahsan (badan) dan kesimpulan (ending), ujarnya. Menjawan kebingungan penulis pemula, Agung memberi tips mulai menulis, yakni dimulai dari mulai, mulai dan mulai. Sementara itu, kegagalan karena gagal menekankan yang penting karena kurang memahami informasi. Gagal menghadirkan data-data atau fakta pendukung. Gagal memerangi kejemuan pembaca, karena terlalu banyak klise, tak ada informasi spesifik bagi pembaca. Gagal mengorganisasikan tulisan, entah itu kalimat maupun keseluruhan tulisan. Gagal menerapkan tata bahasa, salah ejaan, maupun tanda baca. Gagal menjaga alur tulisan dan gagal mengaitkan diri dengan pembaca, terangnya. 6. Pakar Pendidikan Kepribadian, Dr Leila Mona Ganiem, Spd. M.Si Bagi kalangan Guru, nama Leila Mona Ganiem bukan nama asing lagi karena setiap pelatihan CSR Telkom-Republika, ia siap tampil sebagai pembicara. Di pelatihan Guru tahap ke-3 angkatan ke-4 di Telkom Solo, Leila tampil lebih energik dan percaya diri. Menurutnya, pribadi menarik bagi seorang guru, adalah sebagai ladang amal yang sangat subur, berkesempatan terus belajar, sebagai pencetak fondasi bangsa serta sebagai tokoh panutan. Ia terus terang mengatakan, jika seorang guru tidak sepenuh hati, maka Anda tidak akan menjadi guru terbaik, ujarnya. Guru yang menginspirasi menghasilkan murid yang terinspirasi pula. Namun betapa sedihnya, jika guruku suka marah-marah, guruku suka acak-acakan. Namun betapa bahagianya, jika guruku luar biasa yang bisa menginspirasi dalam memilih karir dan guruku keren, asyik dan idola kita semua. Lebih jauh dikatakan Leila, bahwa seorang guru perlu pengembangan diri. Mengapa? Karena Ilmu pengetahuan kan berkembang terus. Kini guru SD, SMP dan SMA boleh mengembangkan kurikulum dengan mengacu pada standard nasional. Karena globalisasi, siswa makin update sehingga guru perlu innovatif dengan metode pengajaran, jelasnya. Pada bagian akhir, Leila bertanya, seperti apakah guru idaman? Bila sesuatu penting untuk dikatakan, hal itu juga penting untuk didengar. Untuk berbicara baik, pertama Anda harus berminat pada apa yang akan Anda katakan, selanjutnya sampaikan dengan penuh minat, ungkapnya. Sedangkan kunci ekspresi suara, seorang guru harus bisa mengatakan dengan sangat jelas terdengar, indah, pengucapannya benar dan punya roh. "Terimalah dirimu apa adanya karena itu akan menjadi milikmu seumur," tegas Leila Mona Ganiem.**ers**
|
|