8 Tahun Melukis dengan Mulut
Walikota Solo Joko Widodo terlihat sumringah saat menerima lukisan berlatar Pendhapi Gede Sala, Selasa (17/2). “Saya senang, warnanya natural,” ucapnya kepada Faisal Rusdi (34), sang pelukis. Lukisan dengan sapuan warna sephia (warna kecoklatan karena pelukisnya menggunakan cat minyak) ini, bagi mereka yang tidak mengikuti prosesnya dari awal, mungkin tidak ada yang spesial, boleh jadi bisa dilakukan oleh pelukis manapun. Namun, semburat keistimewaan akan tertangkap manakala mengetahui siapa sesungguhnya pemilik karya seni tersebut. Sebab hanya orang-orang yang dikaruniai kemampuan lebih yang bisa menghasilkan lukisan elok itu. Saat pelaksanaan upacara Hari Jadi ke-264 Kota Solo, Faisal Rusdi tengkurap di atas matras biru, di sudut halaman Balaikota Solo. Matanya terus menatap ke depan. Apa yang ditangkap oleh penglihatannya kemudian dituangkan dalam guratan-guratan di atas kanvas berukuran 50 x 70 centimeter (cm) yang disandarkan di kursi rodanya. Mulutnya yang memegang kuas terus bergerak membentuk obyek berupa atap Pendapi Gede Sala dan pohon palem yang tumbuh di halaman Balaikota Solo. Faisal Rusdi, merupakan satu dari sepuluh pelukis yang mendokumentasikan suasana upacara peringatan Hari Jadi ke-264 Kota Solo. Didampingi istrinya, Cucu Saidah (34), Faisal sesekali jeda dari kegiatannya untuk menceritakan pengalamannya. Sambil menerawang, ia mengenang. “Dulu awalnya memang sering mau muntah karena tak jarang kuas masuk terlalu dalam di tenggorokan. Tapi, lama kelamaan jadi terbiasa,” ungkapnya. Sejak duduk di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB) tahun 2003, Faisal mengaku sudah gemar melukis. Namun, ia mulai serius menekuni hobinya ini saat lulus SMP tahun 2000 dengan masuk sanggar melukis Semar Mesem di Bandung. “Kendalanya lagi, saat harus melukis di ruangan. Bau cat minyak sangat mengganggu sehingga sering mual,” tambah pelukis spesialis cat minyak ini. Untuk menyelesaikan lukisan realis, Faisal butuh waktu sekitar satu bulan. Namun, untuk lukisan ekspresionis hanya dibutuhkan waktu tiga jam untuk menyelesaikannya. Faisal Rusdi menderita cerebral palsy atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. Karena itu, dalam setiap aktivitasnya, pasangan yang menikah pada 30 November 2008 ini selalu didampingi oleh asistennya. Begitupun saat menyerahkan hasil lukisannya kepada Walikota Solo. Kini, Faisal menjadi salah satu dari sembilan orang anggota Asosiasi Pelukis dengan Kaki dan Mulut (Association of Mouth and Foot Painting Artist/AMFPA). Selanjutnya, suami Direktur Program Bandung Individual Living Centre (bilic) ini berangan-angan ingin menggelar pameran lukisan tunggal. (Siti Masudah Isnawati)
|