Improvisasi Keroncong Lesehan
Keroncong Lesehan yang rutin diselenggarakan setiap bulan pada Minggu ketiga, Selasa (16/9), pukul 19.30 WIB akan tampil di Taman Budaya Jawa Tengah (TNJT) Surakarta. Untuk kesempatan ini, Keroncong Lesehan akan menampilkan dua kelompok muda SMKI 8 Surakarta dan Kelompok Amor dari Karanganyar. Suparman, koordintor dari Keroncong Lesehan kepada Joglosemar, Rabu (10/9) menuturkan acara ini memang untuk mengembangkan musik keroncong, dengan menampilkan kelompok keroncong yang mampu berkreasi sedikit di luar pakem. Salah satunya adalah dengan menampilkan kelompok keroncong dari kalangan anak muda. Langkah ini diharapkan agar musik keroncong yang notabenenya musik orang tua bisa diterima oleh kalangan muda. “Dengan pendekatan kepada kaum muda diharapkan ada pengembangan untuk musik keroncong. Kelompok keroncong dari kalangan anak muda pasti akan melakukan improvisasi dan mengeksplorasi musik keroncong asli. Jadi perkembangan musik keroncong tidak stagnan, tetapi juga bisa berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Diharapkan musik keroncong mampu berkembang sebagaimana genre musik yang lain seperti dangdut atau pop, “ jelasnya. Warna Berbeda Oleh sebab itu, pelaksanaan dari Lesehan Keroncong tidak hanya terbatas pada pagelaran musik keroncong asli. “Untuk beberapa bulan terakhir, pagelaran musik keroncong menampilkan kelompok keroncong yang memberikan warna berbeda. Seperti penampilan dari SMA Yosef, SMA 2, SMA 6, kelompok keroncong Tirta Lawu dan Swastika,” tambahnya. Karena dengan sentuhan dan pengaruh perkembangan zaman, kelompok keroncong dari kalangan anak muda ini bisa memberikan warna dan suasana yang berbeda bagi musik keroncong. “Musik keroncong tidak hanya bisa dinikmati oleh orang tua. Tapi juga mampu membuat tertarik dari kalangan anak muda.” Tapi bukan berarti langkah ini diambil untuk menolak apresiasi musik keroncong asli. “Justru improvisasi dan eksplorasi dari musik keroncong, malah menambah khasanah seni musik keroncong,” tuturnya. (lea)
|